“Diamnya seekor binatang, hanya dapat dipahami oleh jiwa
orang bijak.”-Pujangga India
Senja begitu indah ketika khayal merampas ruhku, aku
berjalan melewati pinggiran kota. Aku lambatkan jalanku tatkkala melewati di
depan sebuah rumah bobrok. Rumah yang hanya tinggal puing-puing belaka.
Di antara puing itu kulihat ada seeokor anjing terbaring di
atas sampah dan abu.
Luka-luka menyelimuti kulitnya dan kesakitan begitu
menyiksa tubuh lemahnya.
Pandangannya menerawang dari matanya yang penuh kedukaan.
Seolah ada ungkapan kehinaan keputusasaan, dan penderitaan.
Ku hampiri
pelan-pelan ke arahnya, mudah-mudahan aku bisa paham bahasa, sehingga aku akan
dapat menghiburnya dengan empatiku. Namun ternyata penekatanku hanya menakutkan
saja, ia mencoba bangkit walau kakinya lumpuh. Ia tergolek. Ia kembali
melihatku dalam kemarahan yang tak terbantukan bercampur dengan sebuah
permohonan.
Dalam pandangannya itu, lebih jelas dari omongan manusia dan
lebih menyentuh daripada airmata seorang wanita. Inilah apa yang kupahami
tentangnya, ia pun berkata,
“wahai manusia, aku bergitu kesakitan oleh
kebrutalan dan penyiksaanmu.”
“aku berlari menghindari kaki-kakimu yang telah mememarkan
tubuhku. Akhirnya, aku pun berlindung disini, dan ternyata debu dan kotoran
lebih lembut daripada manusia, puing-puing ini pun lebih melankolis daripada
jiwa manusia. Pergilah. Kau pengacau. Dari dunia tanpa hukum dan keadilan ini.”
“Akulah mahluk sengsara yang senantiasa melayani anak Adam
dengan kesetiaan dan loyalitas. Akulah sahabat penuh kesetiaan manusia, aku
menjaganya siang dan malam. Aku bersedih hati atas ketiadaannya dan
menyambutnya dengan kegembiraan atas kepulangannya. Aku puas dengan sampah
makanannya, dan bahagia dengan tulang-tulang yang telah dikuliti oleh gigi-giginya.
Akan tetapi ketika aku beranjak tua dan sakit-sakitan, ia mengusirku dari
rumahnya dan meninggalkanku tanpa kemurahan hati anak-anak jalanan.”
“Wahai, putera Adam, kulihat kesamaan aku antara engkau,
umat manusia, ketika masa melumpuhkan mereka. Balatentara berperang demi negara
ketika raga mereka dalam kehidupan terbaiknya. Akan tetapi sekarang musim
dingin kehidupan telah tiba, dan mereka tidak lagi berguna dan mereka pun
tersingkir.
“Aku juga melihat sebuah persamaan antara nasibku dan nasib
seorang wanita. Ketika masa gadis hari-harinya begitu indah, waktunya tercurah
untuk memeriahkan hati seorang lelaki muda, yang kemudian, sebagai seorang ibu,
hanya mencurahkan kehidupannya untuk anak-anaknya. Akan tetapi sekarang, tumbuh menjadi tua, ia
dilupakan dan dijauhi. Betapa keji dan menindasnya engkau, putra Adam.”
Demikianlah,
cakap binatang dalam kediamannya, dan hatiku ternyata mampu memahaminya.
Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi.
Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar