Jumat, 02 Desember 2016

Diamnya Seekor Binatang





Diamnya seekor binatang, hanya dapat dipahami oleh jiwa orang bijak.”-Pujangga India



Senja begitu indah ketika khayal merampas ruhku, aku berjalan melewati pinggiran kota. Aku lambatkan jalanku tatkkala melewati di depan sebuah rumah bobrok. Rumah yang hanya tinggal puing-puing belaka.


Di antara puing itu kulihat ada seeokor anjing terbaring di atas sampah dan abu.
Luka-luka menyelimuti kulitnya dan kesakitan begitu menyiksa tubuh lemahnya.

Pandangannya menerawang dari matanya yang penuh kedukaan. Seolah ada ungkapan kehinaan keputusasaan, dan penderitaan.

Ku hampiri pelan-pelan ke arahnya, mudah-mudahan aku bisa paham bahasa, sehingga aku akan dapat menghiburnya dengan empatiku. Namun ternyata penekatanku hanya menakutkan saja, ia mencoba bangkit walau kakinya lumpuh. Ia tergolek. Ia kembali melihatku dalam kemarahan yang tak terbantukan bercampur dengan sebuah permohonan.


Dalam pandangannya itu, lebih jelas dari omongan manusia dan lebih menyentuh daripada airmata seorang wanita. Inilah apa yang kupahami tentangnya, ia pun berkata,
“wahai manusia, aku bergitu kesakitan oleh kebrutalan dan penyiksaanmu.”


“aku berlari menghindari kaki-kakimu yang telah mememarkan tubuhku. Akhirnya, aku pun berlindung disini, dan ternyata debu dan kotoran lebih lembut daripada manusia, puing-puing ini pun lebih melankolis daripada jiwa manusia. Pergilah. Kau pengacau. Dari dunia tanpa hukum dan keadilan ini.”


“Akulah mahluk sengsara yang senantiasa melayani anak Adam dengan kesetiaan dan loyalitas. Akulah sahabat penuh kesetiaan manusia, aku menjaganya siang dan malam. Aku bersedih hati atas ketiadaannya dan menyambutnya dengan kegembiraan atas kepulangannya. Aku puas dengan sampah makanannya, dan bahagia dengan tulang-tulang yang telah dikuliti oleh gigi-giginya. Akan tetapi ketika aku beranjak tua dan sakit-sakitan, ia mengusirku dari rumahnya dan meninggalkanku tanpa kemurahan hati anak-anak jalanan.”


“Wahai, putera Adam, kulihat kesamaan aku antara engkau, umat manusia, ketika masa melumpuhkan mereka. Balatentara berperang demi negara ketika raga mereka dalam kehidupan terbaiknya. Akan tetapi sekarang musim dingin kehidupan telah tiba, dan mereka tidak lagi berguna dan mereka pun tersingkir.


“Aku juga melihat sebuah persamaan antara nasibku dan nasib seorang wanita. Ketika masa gadis hari-harinya begitu indah, waktunya tercurah untuk memeriahkan hati seorang lelaki muda, yang kemudian, sebagai seorang ibu, hanya mencurahkan kehidupannya untuk anak-anaknya. Akan  tetapi sekarang, tumbuh menjadi tua, ia dilupakan dan dijauhi. Betapa keji dan menindasnya engkau, putra Adam.”



Demikianlah, cakap binatang dalam kediamannya, dan hatiku ternyata mampu memahaminya.


Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar