Minggu, 04 Desember 2016

Nasihat Ruhku

Ruhku menasihati dan mengajariku tentang cinta. Cinta yang tumbuh di antara orang-orang yang membenci, dan mengayomi orang-orang yang mencaci-maki. Ruhku menunjukan kepadaku. Bahwa cinta hanya membanggakan dirinya sendiri, dan tidak hanya pada seseorang yang mencintai, akan tetapi juga pada seorang kekasih.

Sebelum ruhku menasehatiku, cinta yang ada dalam hatiku laksana benang kecil yang terkait di antara dua pasak. Tetapi sekarang cinta telah menjadi sebuah lingkaran cahaya, yang awalnya adalah akhirnya, dan akhirnya adalah awalnya. Lingkaran cahaya itu mengelilingi setiap mahluk, dan meluas dengan perlahan memeluk semua yang hidup.

Ruhku menasehati dan mengajarkanku, untuk merasakan keindahan tersembunyi dari kulit, bentuk tubuh, dan warna-warni. Ia mengajarkanku merenung akan tetapi banyak orang mencibir menganggapnya jelek, hingga pesona kebenaran dan kebahagiaannya tampak.

Sebelum ruhku menasehatiku, aku melihat Keindahan laksana nyala obor yang gemetar di antara kolom asap. Dan sekarang, asap telah lenyap, aku hanya melihat nyala api.
Ruhku menasehati dan mengajarkanku, untuk mendengarkan suara-suara di mana lidah, tenggorokan, dan bibir tidak bisa berucap.

Sebelum ruhku mengajarkan kepadaku, aku tidak mendengarkan sesuatu, akan tetapi hanya teriakan dan ratapan. Akan tetapi sekarang aku, dengan tidak sabar, menghadiri-diri dalam sunyi, dan mendengarkan paduan suara sambil menyanyikan lagu-lagu kesenian dari suatu masa, dan tembang cakrawala yang mempermaklumkan rahasia-rahasia dari Ketaknampakan.

Ruhku menasehati dan mengajarkanku meminum anggur. Yang tidak bisa diperas dan dimurnikan dari cangkir-cangkir yang dapat diangkat tangan, atau bibir-bibir yang dapat menyentuhnya.

Sebelum ruhku menasehatiku, kehausanku laksana percikan api kecil yang tersembunyi di bawah abu, yang dapat dipadamkan oleh seteguk air.
Tetapi sekarang kerinduan telah menjadi cangkirku, kasih sayang adalah anggurku, dan dalam kehausan yang tidak terpuaskan, ada kebahagiaan abadi.

Ruhku menasehati dan mengajarkanku untuk menyentuh tanpa bisa menjelma, ruhku menyatakan padaku bahwa apa pun yang kami sentuh adalah bagian dari nafsuku.

Akan tetapi sekarang jemari-jemariku telah berubah menjadi halimun, yang menembus alam semesta, dan bercampur dengan Ketaknampakan.

Ruhku mengajarkanku menghirup wewangian tanpa semerbak dupa. Sebelum ruhku mengajarkanku, aku sangat membutuhkan wewangian parfum dalam kebun-kebun, dalam botol-botol atau dalam anglo pedupaan.

Akan tetapi sekarang aku dapat membau dupa yang tidak dibakar untuk persembahan atau kurban. Dan aku memenuhi hatiku dengan keharuman yang tidak pernah dihembuskan oleh angin sepoi-sepoi dari angkasa.

Ruhku menasehati dan mengajarkanku untuk menyatakan, “Aku siap” ketika Ketaktahuan dan Bahaya memanggilku.

Sebelum ruhku menasehatiku, aku menjawab tanpa suara, dan menyimpan suara tangisan yang kukenal, serta merasa tidak aman ketika berjalan yang lempang maupun yang licin.

Sekarang Ketaktahuan telah menjadi seekor kuda, dan aku dapat menaikinya untuk mencapai Ketaktahuan tersebut, dan dataran telah berubah menjadi sebuah tangga, sehingga aku bisa mencapai puncak.

Ruhku berbicara kepadaku dan berkata, “Jangan mengukur Waktu dengan berkata, ‘ Yang ada hanyalah kemarin, dan hari esok.’”

Dan sebelum ruhku berbicara kepadaku, aku menghayalkan sebuah Masa lalu sebagai sebuah epoch yang tidak pernah kembali, dan Masa Depan sebagai sesuatu yang tidak pernah bisa diraih.

Sekarang aku menyadari, bahwa kejadian sekarang mengandung semua waktu, dan dengan ini semua kita bisa berharap, bekerja, dan mewujudkannya.

Ruhku menasehatiku, dan mendesakku agar tidak membatasi ruang dengan berkata, “ Disini, disana, dan nun di sebelah sana.”

Sebelum ruhku menasehatiku, aku merasa bahwa di mana pun aku berjalan, terasa jauh dari semua ruang yang lain.

Sekarang aku menyadari, bahwa di mana pun aku adalah mengisi semua tempat, dan jarak yang kutempuh mencakup semua jarak.

Ruhku mengajarkan dan menasehatiku, untuk tetap terjaga ketika yang lain tertidur. Dan istirahat untuk tidur ketika yang lain bergerak.

Sebelum ruhku menasehatiku, aku tidak melihat mimpi mereka dalam tidurku, begitu juga mereka tidak mengamati pandanganku.

Sekarang aku tidak pernah berlayar dengan kapal mimpiku, kecuali kalau mereka melihatku dan mereka tidak pernah terbang tinggi ke langit pandangan mereka, kecuali kalau aku bergembira dalam kebebasan mereka.

Ruhku menasehatiku dan berkata, “Jangan menjadi bahagia oleh pujian, dan jangan menjadi menderita karena kesalahan.”

Sebelum ruhku menasehatiku, aku selalu menyangsikan nilai pekerjaanku.

Sekarang aku menyadari bahwa pepohonan mekar pada Musim Semi, dan berbuah pada Musim Panas tanpa puji-pujian, dan mereka merontokkan dedaunan pada Musim Gugur, serta menjadi meranggas pada Musim Dingin, tanpa kesalahan yang perlu ditakutkan.

Ruhku menasehati dan menunjukkan padaku, bahwa aku tidak lebih daripada seorang kerdil maupun seorang angkara.

Sebelum ruhku menasehatiku, aku menganggap kemanusiaan sebagai dua orang laki-laki, yang satu lemah, aku kasihani, dan yang lain kuat, aku ikuti atau kutentang dalam tantangan.

Tetapi sekarang aku telah paham bahwa aku adalah keduanya, dan terbentuk dari anasir-anasir yang sama. Asal-usulku adalah asal-usul mereka, peradabanku adalah peradaban mereka dan ziarahku adalah ziarah mereka.

Jika mereka berdosa, aku juga seorang pendosa. Apabila mereka berlaku baik, aku bangga pada kelakuan baik mereka. Apabila mereka bangkit, aku bangkit bersama mereka. Apabila mereka tetap dalam kelembaman, aku akan berbagi kemalasan.

Ruhku berbicara padaku dan berkata, “Lentera yang kau bawa itu adalah bukan milikmu, dan lagu yang kau nyanyikan itu tidak kau gubah dengan hatimu, karena sekali pun engkau menahan cahaya, engkau bukan cahaya, dan sekali pun engkau adalah sebuah senar gitar dengan dawai-dawai, engkau bukan seorang pemain senar gitar

Ruhku menasehati padaku, saudaraku, dan mengajariku begitu banyak. Dan jiwamu telah menasehati dan mengajarimu juga begitu banyak. Karena engkau dan aku adalah satu, dan tidak ada perbedaan di antara kita. Aku menganggap semua itu ada dalam bagian terdalam dalam diriku sendiri sementara engkau menangkap sebagai sebuah rahasia yang ada dalam dirimu. Akan tetapi dalam kerahasiaanmu ada sebuah rupa kebajikan.


Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi. 

Jumat, 02 Desember 2016

Diamnya Seekor Binatang





Diamnya seekor binatang, hanya dapat dipahami oleh jiwa orang bijak.”-Pujangga India



Senja begitu indah ketika khayal merampas ruhku, aku berjalan melewati pinggiran kota. Aku lambatkan jalanku tatkkala melewati di depan sebuah rumah bobrok. Rumah yang hanya tinggal puing-puing belaka.


Di antara puing itu kulihat ada seeokor anjing terbaring di atas sampah dan abu.
Luka-luka menyelimuti kulitnya dan kesakitan begitu menyiksa tubuh lemahnya.

Pandangannya menerawang dari matanya yang penuh kedukaan. Seolah ada ungkapan kehinaan keputusasaan, dan penderitaan.

Ku hampiri pelan-pelan ke arahnya, mudah-mudahan aku bisa paham bahasa, sehingga aku akan dapat menghiburnya dengan empatiku. Namun ternyata penekatanku hanya menakutkan saja, ia mencoba bangkit walau kakinya lumpuh. Ia tergolek. Ia kembali melihatku dalam kemarahan yang tak terbantukan bercampur dengan sebuah permohonan.


Dalam pandangannya itu, lebih jelas dari omongan manusia dan lebih menyentuh daripada airmata seorang wanita. Inilah apa yang kupahami tentangnya, ia pun berkata,
“wahai manusia, aku bergitu kesakitan oleh kebrutalan dan penyiksaanmu.”


“aku berlari menghindari kaki-kakimu yang telah mememarkan tubuhku. Akhirnya, aku pun berlindung disini, dan ternyata debu dan kotoran lebih lembut daripada manusia, puing-puing ini pun lebih melankolis daripada jiwa manusia. Pergilah. Kau pengacau. Dari dunia tanpa hukum dan keadilan ini.”


“Akulah mahluk sengsara yang senantiasa melayani anak Adam dengan kesetiaan dan loyalitas. Akulah sahabat penuh kesetiaan manusia, aku menjaganya siang dan malam. Aku bersedih hati atas ketiadaannya dan menyambutnya dengan kegembiraan atas kepulangannya. Aku puas dengan sampah makanannya, dan bahagia dengan tulang-tulang yang telah dikuliti oleh gigi-giginya. Akan tetapi ketika aku beranjak tua dan sakit-sakitan, ia mengusirku dari rumahnya dan meninggalkanku tanpa kemurahan hati anak-anak jalanan.”


“Wahai, putera Adam, kulihat kesamaan aku antara engkau, umat manusia, ketika masa melumpuhkan mereka. Balatentara berperang demi negara ketika raga mereka dalam kehidupan terbaiknya. Akan tetapi sekarang musim dingin kehidupan telah tiba, dan mereka tidak lagi berguna dan mereka pun tersingkir.


“Aku juga melihat sebuah persamaan antara nasibku dan nasib seorang wanita. Ketika masa gadis hari-harinya begitu indah, waktunya tercurah untuk memeriahkan hati seorang lelaki muda, yang kemudian, sebagai seorang ibu, hanya mencurahkan kehidupannya untuk anak-anaknya. Akan  tetapi sekarang, tumbuh menjadi tua, ia dilupakan dan dijauhi. Betapa keji dan menindasnya engkau, putra Adam.”



Demikianlah, cakap binatang dalam kediamannya, dan hatiku ternyata mampu memahaminya.


Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi. 

Gigi yang Busuk




Aku memiliki sebuah gigi busuk dalam mulutku. Gigi yang menyusahkanku. Selama siang hari gigi itu terlelap. Tenang. Akan tetapi dalam ketenangan malam, ketika dokter gigi tidur dan toko obat tutup, rasa sakit itu pun muncul.

Suatu hari, sepertinya ketidaksabaranku bertambah, aku pergi ke dokter gigi untuk memintanya mencabut gigi terkutuk itu. Gigi yang menyebabkan sengsara dan menghalangiku merasakan kebahagiaan tidur. Sunyi malam berubah menjadi erangan dan kegaduhan.
Dokter gigi itu mengeleng-gelengkan kepalanya dan berkata, “bodoh, apabila harus mencabut gigimu, kami bisa mengobatinya.”

Lalu ia memulai mengebor tepi gigiku dan membersihkan lubang gigiku menggunakan beberapa peralatan, untuk memulihkan dan membebaskan gigiku dari pembusukan. Setelah selesai mengebor, ia mengisinya dengan emas murni dan berkata dengan penuh kesombongan. “sekarang gigimu yang rusak telah menjadi lebih kuat dan kokoh daripada gigi yang bagus lainnya.”                Aku percaya padanya dan membayarnya serta meninggalkan tempat tersebut.

Akan tetapi belum ada satu minggu berlalu, gigi terkutuk itu kembali pada penyakitnya semula, dan beban siksaan itu mengubah tembang indah ruhku menjadi ratapan dan penderitaan yang begitu mendalam.

Maka aku pun pergi ke dokter gigi yang lain dan berkata padanya, “cabut gigi terkutuk ini tanpa pertanyaan apa pun, sebab seseorang yang menderita sakit tidak sama dengan seseorang yang memperhitungkannya.”

Dia pun mencabut gigiku, mematuhi perintahku. Ia mengamati gigiku dan berkata, “gigi busuk itu sudah dicabut, engkau harus merawatnya dengan baik.”

Dalam mulut Masyarakat ada banyak penyakit gigi,
Bahkan hingga membusukkan tulang-tulang rahang. Akan tetapi masyarakat tidak membuat upaya untuk mencabut mereka dan melenyapkan penderitaan mereka. Ia mengisi dirinya dengan isian emas. Beberapa dokter gigi mengobati gigi-gigi busuk masyarakat ini hanya dengan gemerlap emas.
Mereka banyak yang menyerah pada bujukan pembaharu, penyakit, dan rasa nyeri.
Serta kematian adalah nasib mereka
Dalam mulut sebuah bangsa ada banyak gigi busuk, hitam, kotor-bernanah dan berbau busuk.
Para dokter lebih memilih berusaha mengobati dengan isian emas daripada dengan pencabutan.
Dan penyakit itu masih tetap ada

Sebuah bangsa dengan gigi-gigi busuk adalah malapetaka bagi penderita sakit perut. Beberapa bangsa menderita dengan ketidaksanggupannya mencerna.
Jika engkau berharap dapat mengamati gigi-gigi busuk sebuah bangsa,
Kunjungilah sekolah-sekolah di mana putera dan puteri mereka pada hari ini disiapkan, untuk menjadi laki-laki dan wanita dewasa di esok hari.
Kunjungilah rumah rumah orang kaya di mana kesombongan, kebohongan, dan kemunafikan merajalela. Tetapi jangan menyia-nyiakan kesempatan untuk melewati gubuk-gubuk orang miskin, di mana ketakutan, kebodohan dan kekecutan hati menghinggapi mereka
Kunjungilah pengadilan dan saksikanlah penyelewengan-penyelewengan dari bajingan dan mafia keadilan. Lihatlah betapa mereka mempermainkan pikiran dan perasaan rakyat seperti kucing bermain-main dengan tikus.
Lalu kunjungilah dokter gigi dengan jari-jemari yang cekatan, pemilik peralatan-peralatan lunak, plester gigi, dan obat-obat penenang, yang menghabiskan hari-hari mereka untuk mengisi lubang-lubang pada gigi-gigi busuk, dari sebuah bangsa untuk menutupi kebusukan mereka.
Bicaralah kepada para pembuat perubahan, yang bersikap sebagai intelegensia sebuah bangsa dan banyak mengatur masyarakat , banyak mengadakan konferensi-konferensi, serta banyak menjadi perbincangan masyarakat. Ketika engkau berbicara kepada mereka, engkau akan mendengar irama yang barangkali lebih agung daripada suara gemeretak batu gerinda, dan lebih mulia daripada bunyi celoteh kodok-kodok pada malam hari di musim hujan.

Ketika engkau bercerita tentang sebuah bangsa yang sedang menggerogoti rotinya dengan gigi-gigi busuk, mengunyahnya dengan saliva beracun sehingga  menyebabkan sakit perut dalam perut bangsa ini, mereka pun menjawab, “ ya tetapi kami sedang mencari isian gigi dan obat-obat penenang yang lebih baik.”
Dan apabila engkau menyarankan “pencabutan” kepada mereka, mereka akan menertawakan engkau, sebab engkau belum belajar seni agung dari ilmu kedokteran gigi yang dapat menyembunyikan penyakit ini.
Jika engkau memintanya dengan tegas, mereka akan pergi menjauh dan menghindarimu, dan berkata kepada diri mereka sendiri, “banyak orang idealis di dunia ini dan kelemahannya adalah impian mereka.”



Diterjemahkan dari buku Kahlil Gibran (Nabi dari Libanon) oleh penerjemah Putri Pandan Wangi.